Tuesday, March 1, 2011

Kisah Nabi Yaqub A.S.

Nabi Ya’akub adalah putera dari Nabi Ishaq bin Ibrahim sedang ibunya adalah anak saudara dari Nabi Ibrahim, bernama Rifqah binti A’zar ( Rafqah binti Batuwael bin Nahur ). Nabi Ishaq mempunyai anak kembar, satu Yaqub dan satu lagi bernama Al-Aish ( ishu ). Nabi Ishaq lebih menyayangi Al-Aish karena ia lahir lebih dulu, sedang ibunya lebih menyayanginya Nabi Yaqub karena ia lebih kecil.

Antara Nabi Yaqub dan saudara kembarnya Aish, tidak ada rasa kasih-sayang satu dengan lainnya bahkan Aish mendendam dengki dan iri hati terhadap Nabi Ya’qub saudara kembarnya yang memang dimanjakan dan lebih disayangi serta dicintai oleh ibunya.

Di usianya yang sudah lanjut, Nabi Ishaq sudah tidak dapat melihat lagi. Oleh karena itu, Aish sering sekali melayani Ayahnya sementara Nabi Yaqub sangat pendiam dan lebih senang berada di rumah mempelajari ilmu-ilmu agama.


Suatu hari, Nabi Ishaq menginginkan suatu makanan, ia kemudian meminta Aish untuk mengambilkannya. Namun atas suruhan ibunya, Yaqublah yang lebih dulu mengambilkan makanan itu untuknya. Setelah Yaqub melayaninya, Nabi Ishaq lalu mendoakannya, “Mudah-mudahan engkau menurunkan nabi-nabi dan raja-raja.” Doa Nabi adalah doa yang mustajab, dan sebagai buktinya dalam sejarah keturunan Nabi Yaqub memang banyak melahirkan banyak para nabi dan raja. Hal ini membuat hubungan antara Yaqub dan Aish menjadi semakin buruk dan tegang.

Melihat sikap saudaranya yang bersikap kaku dan dingin dan mendengar kata-kata sindirannya yang timbul dari rasa dengki dan irihati, bahkan Nabi Yaqub pernah akan di ancam untuk di bunuh agar Nabi Yaqub sama sekali tidak punya keturunan. Maka, datanglah Nabi Yaqub kepada ayahnya untuk mengadukan sikap permusuhan dari Aish.

Nabi Yaqub berkata kepada Ayahnya : ” Wahai ayahku! Tolonglah berikan pikiran kepadaku, Apa yang harus kulakukan dalam menghadapi saudaraku Aish yang membenciku serta mendendam dengki kepadaku dan selalu menyindirku dengan kata-kata yang menyakitkan hatiku, sehinggakan menjadikan hubungan persaudaraan kami berdua renggang dan tegang, tidak ada saling cinta mencintai dan saling sayang-menyayangi. Dia marah kerana ayah memberkati dan mendoakan aku agar aku memperolehi keturunan soleh, rezeki yang mudah dan kehidupan yang makmur serta kemewahan . Dia menyombongkan diri dengan kedua orang isterinya dari suku Kan’aan dan mengancam bahawa anak-anaknya dari kedua isterinya itu akan menjadi saingan berat bagi anak-anakku kelak didalam pencarian dan penghidupan dan macam-macam ancaman lain yang mencemas dan menyesakkan hatiku. Tolonglah ayah berikan aku fikiran bagaimana aku dapat mengatasi masalah ini serta mengatasinya dengan cara kekeluargaan.”

Berkata Nabi Ishaq yang memang sudah merasa kesal hati melihat hubungan kedua puteranya yang makin hari makin meruncing: “Wahai anakku, kerana umurku yang sudah lanjut aku tidak dapat menengahi kamu berdua. Ubanku sudah menutupi seluruh kepalaku, badanku sudah membongkok, raut mukaku sudah berkerut dan aku sudah berada di ambang pintu perpisahan dari kamu dan meninggalkan dunia yang fana ini. Aku khawatir bila aku sudah menutup usia, gangguan saudaramu Aish kepadamu akan makin meningkat dan ia secara terbuka akan memusuhimu, berusaha mencari kecelakaanmu dan kebinasaanmu. Ia dalam usahanya memusuhimu akan mendapat sokongan dan pertolongan dan saudara-saudara iparnya yang berpengaruh dan berwibawa di negeri ini. Maka jalan yang terbaik bagimu, menurut fikiranku, engkau harus pergi meninggalkan negeri ini dan berhijrahlah engkau ke Fadan A’raam di daerah Iraq, di mana bapa saudaramu yaitu saudara ibumu, Laban bin Batu;il berada.

Engkau dapat berharap agar dinikahkan kepada salah seorang puterinya. Dengan demikian akan menjadi kuatlah kedudukan sosialmu dan kan akan disegani dan dihormati orang kerana kedudukan mertuamu yang menonjol di mata masyarakat. Pergilah engkau ke sana dengan iringan doa dariku. Semoga Allah memberkati perjalananmu, memberi rezeki murah dan mudah serta kehidupan yang tenang dan tenteram.”

Nasihat dan anjuran si ayah mendapat tempat dalam hati Nabi Yaqub. Melihat dalam anjuran ayahnya jalan keluar yang dikehendaki dari krisis hubungan persaudaraan antara dirinya dan Al-Aish, dengan mengikuti saran itu, dia akan dapat bertemu dengan Saudara dan anggota-anggota keluarganya dari pihak ibunya .

Nabi Yaqub lalu segera berkemas-kemas dan membungkus barang-barang yang diperlukan dalam perjalanan dan dengan hati yang terharu serta air mata yang tergenang di matanya ia pamitan kepada ayahnya dan ibunya ketika akan meninggalkan rumah.

Dengan melalui jalan pasir dan Sahara yang luas dengan panas matahari yang terik dan angin samumnya yang membakar kulit, Nabi Yaqub meneruskan perjalanan seorang diri, menuju ke Fadan A’ram dimana Saudara Ibunya Laban tinggal. Dalam perjalanan yang jauh itu , ia sesekali berhenti beristirehat bila merasa letih dan lesu. Dalam salah satu tempat perhentiannya, Nabi Yaqub karana sudah sangat letihnya akhirnya tertidur dibawah teduhan sebuah batu karang yang besar.

Dalam tidurnya yang nyenyak, ia mendapat mimpi bahawa ia dikaruniakan rezeki yang luas, penghidupan yang aman damai, keluarga dan anak cucu yang soleh dan berbakti serta kerajaan yang besar dan makmur. Terbangunlah Nabi Yaqub dari tidurnya, mengusapkan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri dan sadarlah ia bahwa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi namun ia percaya bahwa mimpinya itu akan menjadi kenyataan di kemudian hari sesuai dengan doa ayahnya yang masih tetap mendengung di telinganya.

Dengan diperolehnya mimpi itu, ia merasa segala letih yang ditimbulkan oleh perjalanannya menjadi hilang seolah-olah ia memperolehi tanaga baru dan bertambahlah semangatnya untuk secepat mungkin tiba di tempat yang dituju dan menemui sanak-saudaranya dari pihak ibunya.

Pada akhirnya Nabi Yaqub tiba juga di depan pintu gerbang kota Fadan A’ram. Setelah berhari-hari siang dan malam menempuh perjalanan yang membosankan dengan langit di atas dan pasir di bawah sebagai satu-satunya pemandangan. Alangkah lega hatinya ketika ia mulai melihat binatang-binatang peliharaan berkeliaran di atas ladang-ladang rumput, burung-burung berterbangan di udara yang cerah dan para penduduk kota berhilir mundir mencari nafkah dan keperluan hidup masing-masing. Sesampainya disalah satu persimpangan jalan, dia berhenti sebentar bertanya kepada salah seorang penduduk di mana letaknya rumah saudara ibunya Laban berada.

Laban adalah orang kaya-raya yang kenamaan, pemilik dari suatu perusahaan perternakan yang terbesar di kota itu dan tidak sukar bagi seseorang untuk menemukan alamatnya. Penduduk yang ditanyanya itu segera menunjuk ke arah seorang gadis cantik yang sedang menggembala kambing seraya berkata kepada Nabi Yaqub: “Kebetulan sekali, itulah dia anak perempuan Laban, Rahil, yang dapat membawa kamu ke rumah ayahnya”.

Dengan hati yang berdebar, pergilah Nabi Yaqub menghampiri seorang gadis ayu dan cantik itu, lalu dengan suara yang terputus-putus seakan-akan ada sesuatu yang mengikat lidahnya, Nabi Yaqub mengenalkan diri, bahwa ia adalah saudara sepupunya sendiri. Rafqah ibunya adalah saudara kandung dari ayah si gadis itu, Laban. Diterangkan lagi kepada Rahil, tujuannya datang ke Fadam A’raam dari Kan’aan.

Mendengar kata-kata Nabi Yaqub yang bertujuan hendak menemui ayahnya, Laban, dan untuk menyampaikan pesanan ( Nabi Ishaq ). Maka, dengan senang hati, sikap yang ramah, wajah yang manis, Rahil mempersilakan Nabi Yaqub untuk mengikutinya kembali ke rumahnya untuk menemui ayahnya, Laban.

Setelah berjumpa, lalu berpelukanlah Laban dengan Nabi Yaqub, tanda kegembiraan masing-masing. Laban bin Batu’il kemudian menyediakan tempat dan bilik khas untuk anak saudaranya itu, Nabi Yaqub, yang tidak ada bedanya dengan tempat yang disiapkan untuk anak kandungnya sendiri, dengan senang hatilah Nabi Yaqub tinggal dirumah Laban seperti rumah sendiri.

Setelah selang beberapa waktu tinggal di rumah Laban, Nabi Yaqub menyampaikan pesanan ayahnya Nabi Ishaq, agar Nabi Ishaq dan Laban menjadi besan, dengan menikahkan kepada Nabi Yaqub salah seorang dari puteri-puterinya. Pesanan tersebut di terima oleh Laban, dia bersetuju akan menikahkan Nabi Yaqub dengan salah seorang puterinya. Sebagai mas kawin, Nabi Yaqub harus memberikan tenaganya di dalam perusahaan penternakan bakal mertuanya selama tujuh tahun. Nabi Yaqub setuju dengan syarat-syarat yang dikemukakan oleh Laban. Lalu mulai bekerjalah Nabi Yaqub sebagai seorang pengurus perusahaan penternakan terbesar di kota Fadan A’raam itu.

Tujuh tahun telah dilalui oleh Nabi Yaqub sebagai pekerja dalam perusahaan penternakan Laban. Nabi Yaqub kemudian menagih janji dari Laban, untuk dijadikan sebagai anak menantunya. Laban menawarkan kepada Nabi Yaqub, agar menyunting puterinya yang bernama Laiya sebagai isteri. Tetapi Nabi Yaqub lebih memilih Rahil adik Laiya, kerana Rahil lebih cantik dan lebih ayu dari Laiya. Nabi Yaqub kemudian menyatakan hasrat untuk menikah dengan Rahil, dan bukan Laiya kepada Laban.

Laban mengerti keinginan Nabi Yaqub, namun hasrat itu harus ditolak karana mengikut adat mereka, kakak harus dikahwinkan terlebih dahulu dari adiknya. Laban yang tidak mau mengecewakan hati Nabi Yaqub, lalu menyuarakan pendapat, agar menerima Laiya sebagai isteri pertama. Lalu untuk menikahi Rahil, Nabi Yaqub harus kembali bekerja selama 7 tahun kepada Laban.

Nabi Yaqub yang sangat hormat kepada Saudara Ibunya itu dan merasa berhutang budi kepadanya yang telah menerimanya di rumah sebagai keluarga sendiri, terlebih lagi Laban melayaninya dengan sangat baik dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Hal ini membuat Nabi Yaqub tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima keputusan dari Laban. Pernikahan Nabi Yaqub dengan Laiya pun dilaksanakan, dan perjanjian untuk mengawini Rahil ditandatangani.

Setelah masa tujuh tahun kedua berakhir dinikahkanlah Nabi Ya’ub dengan Rahil gadis yang sangat dicintainya dan selalu dikenang sejak pertemuan pertamanya tatkala ia masuk kota Fadan A’raam. Dengan demikian Nabi Ya’qub beristerikan dua wanita bersaudara, kakak dan adik, hal mana menurut syariat dan peraturan yang berlaku pada waktu tersebut tidak terlarang. Akan tetapi, syariat ini sekarang sudah diharamkan pada masa Nabi Muhammad s.a.w.

Kepada masing-masing puterinya, Laban memberi seorang sahaya perempuan. Kepada Laiya ia memberikan sahaya perempuan bernama Zulfa, dan kepada Rahil ia memberikan sahaya perempuan bernama Balhah. Leah dan Rahel kemudian memberikan sahaya mereka untuk diperistri pula oleh Yaqub, sehingga istri Nabi Yaqub menjadi 4 orang.

Dari keempat istrinya ini Nabi Yaqub AS memperoleh 12 orang anak lelaki.
Dari istrinya Laiya, ia dikaruniai Ruben, Syam’un, Lewi, Yahuda, Yasakir, dan Zabulon.
Dari istrinya Rahil, ia dikaruniai Yusuf dan Bunyamin.
Dari istrinya Balhah, ia dikaruniai Daan dan Naftali.
Dari istrinya Zulfa, ia dikarunian Jaad dan Asyir.

Putra-putra Nabi Yaqub inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya Bani Israil. Mereka dan keturunannya disebut sebagai Al-Asbath, yang berarti cucu-cucu.

Sibith dalam bangsa Yahudi adalah seperti suku dalam bangsa Arab, dan mereka yang berada dalam satu sibith berasal dari satu bapak. Masing-masing anak Nabi Yaqub kemudian menjadi bapak bagi sibith Bani Israil. Maka seluruh Bani Israil berasal dari putra-putra Ya’qub yang berjumlah 12 orang.

Dalam sibith-sibith ini kelak diturunkan para nabi, antara lain:
Sibith Lewi, di kalangan mereka terdapat Nabi Musa, Harun, Ilyas, dan Ilyasa.
Sibith Yahuda, di kalangan mereka terdapat Nabi Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, Isa.
Sibith Bunyamin, di kalangan mereka terdapat Nabi Yunus.

Setelah lewat 20 tahun Nabi Yaqub tinggal bersama pamannya, ia pun meminta izin untuk kembali kepada keluarganya di Kana’an. Saat ia hampir tiba di Kana’an, ia mengetahui bahwa Aish saudaranya telah bersiap untuk menemuinya dengan 400 orang, sehingga Nabi Yaqub merasa takut dan kemudian mendoakannya serta menyiapkan hadiah besar bagi saudaranya itu yang dikirimkan melalui orang-orang utusannya.

Lunaklah hati Aish mendapat hadiah pemberian saudaranya. Kemudian ditinggalkannya negeri Kana’an bagi saudaranya lalu ia pergi ke Gunung Sa’ir. Sedangkan Nabi Yaqub sendiri pergi kepada ayahnya Nabi Ishaq dan tinggal bersamanya di kota Hebron yang dikenal dengan nama Al-Khalil.

Dalam Al Qur’an, kisah Nabi Ya’qub AS secara tersendiri tidak ditemui, namun namanya disebut dalam kaitannya dengan nabi-nabi lain, diantaranya Nabi Ibrahim (kakeknya), dan Nabi Yusuf AS (putranya).

No comments:

Post a Comment